Liputan6.com, Jakarta - Takwa seringkali dipahami hanya sebagai kualitas ibadah ritual seseorang, seperti sholat lima waktu, puasa, atau haji. Namun, Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan bahwa pandangan ini perlu diperluas. Takwa mencakup dimensi ibadah sosial yang tak kalah pentingnya dengan ibadah ritual.
Dalam sebuah pengajian, Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa seseorang disebut bertakwa kepada Allah tidak semata-mata karena ibadah ritualnya sempurna. Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @cahaya_fitrah, ia mengajak umat Islam untuk memahami konsep takwa secara lebih mendalam.
"Catat kalimat ini. Seseorang disebut baik takwanya kepada Allah tidak hanya dinilai dengan bagus ibadah ritualnya. Sholatnya lima waktu terjaga, bagus, itu bagian dari takwa," ujar Ustadz Adi Hidayat.
Ia menjelaskan bahwa sholat memang menjadi indikator taqwa, karena perintah sholat dimulai dengan kalimat takwa. Hal serupa berlaku untuk puasa dan haji. Puasa ditutup dengan ayat yang memuat kalimat takwa, begitu pula dengan ibadah haji.
Namun, takwa menurut Al-Qur'an tidak berhenti pada ibadah ritual saja. Ustadz Adi Hidayat mengutip Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133-134, yang menegaskan pentingnya ibadah sosial. Ayat ini menyeru umat untuk bergegas memperbaiki diri dan berharap mendapatkan surga yang disiapkan untuk orang-orang bertakwa.
"Siapa mereka yang dimaksudkan di ayat ini? Ayat 134 menjelaskan, yaitu orang-orang yang mampu berbagi, saling perhatian, dan sanggup menahan amarah," jelasnya.
Simak Video Pilihan Ini:
Aksi Kodam Bukit Barisan Gagalkan Peredaran 20 Kg Sabu