Gen Z dan Gen Alpha belakangan sering disorot karena dianggap kurang mandiri dan terlalu bergantung pada bantuan instan. Mulai dari guru, orang tua, hingga media, banyak yang menuding adanya gejala learned helplessness—ketidakmampuan menyelesaikan masalah sederhana tanpa petunjuk langsung. Kini, keluhan serupa datang dari arah yang tak terduga: seorang developer game.
Baca ini juga :» Investor Ingin Game Cepat-Cepat Rilis, MUDANG: Two Hearts Gagal Rilis Setelah Studio Ditutup
» Perusahaan Gaming Jepang Minta Calon Karyawan Test Gambar Secara Langsung Untuk Hindari Gen-AI
» Pemerintah China Aktif Dukung Developer Game Dengan Dana dan Fasilitas Gratis
» Gamecom Team Persiapkan Kolaborasi Dengan Game Dev Lokal Indonesia
» Bank Jepang Blokir Transaksi Game 18+, Dev Game Dewasa Kehilangan Pendapatan
Petter Malmehed, kreator game indie After Hours, mengungkapkan bahwa semakin banyak pemain mudanya yang kesulitan dengan hal-hal mendasar di luar konteks game. Ironisnya, masalah ini justru berdampak buruk pada reputasi game miliknya di Steam.

Dirilis pada 2018, After Hours adalah sebuah alternate reality game (ARG) yang menantang pemain untuk menyelidiki hilangnya seorang ilmuwan puluhan tahun lalu. Ceritanya terungkap lewat catatan, surat, dan file yang tersembunyi di dalam sebuah komputer virtual.
Game ini merupakan versi remake dari 128k, sebuah game populer di Newgrounds, yang kemudian dikembangkan ulang dengan puzzle baru setelah sukses lewat Kickstarter.
Berbeda dari game pada umumnya, After Hours tidak hanya meminta pemain memecahkan teka-teki di layar. Sebagai ARG sejati, game ini mendorong ...