Liputan6.com, Jakarta - Kancah persaingan industri otomotif global, khususnya di China, kembali diwarnai dengan manuver bisnis yang mengejutkan dan terbilang gila-gilaan. Raksasa otomotif lokal, Changan yang baru saja mengukuhkan dominasinya dengan mengakuisisi bekas pabrik manufaktur milik Beijing Hyundai di Chongqing.
Berita ini membuat heboh, pabrik yang awalnya memiliki investasi senilai miliaran dolar tersebut, kini berhasil di caplok oleh Changan dengan harga yang lebih murah, jauh di bawah nilai lelang sebelumnya.
Aksi korporasi ini bukan sekadar sebagai pergantian kepemilikan aset mati. Changan mengunci pabrik tersebut untuk digunakan sebagai markas produksi kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) premium mereka.
Dilansir automotiveworld, Deepal yang saat ini sedang naik daun dan mencatatkan kenaikan penjualan yang fantastis, sangat membutuhkan tambahan kapasitas demi untuk mengejar ambisi perusahaan.
Pabrik Hyundai yang mangkrak sejak akhir 2021 kini dipastikan akan kembali berdenyut, namun bukan lagi di bawah panji Korea Selatan, melainkan di bawah kendali penuh pada kekuatan Tiongkok.
Fasilitas yang dibangun dengan invertasi awal sekitar US$ 1,09 milyar (Rp 18,16 triliun), dengan harga final yang disepakati kabarnya hanya sekitar US$226,8 juta (Rp3,78 triliun). Angka ini bahkan jauh lebih rendah dari tawaran lelang pertamanya.
Diskon besar ini jelas menandai betapa sulitnya pabrik tersebut untuk mencari pembeli selama ini, sekaligus hal ini menjadi jackpot bagi Changan dalam memperkuat infrastruktur EV-nya.
Ini adalah cerminan tren yang berkembang di mana joint venture asing kesulitan untuk bersaing di China, dan aset mereka kini hanya menjadi sebuah santapan empuk bagi para produsen domestik.