Gambar Kengerian Padang Mahsyar dan 7 Golongan yang Selamat di Sana

Liputan6.com, Jakarta - Setiap jiwa yang hidup di dunia ini akan menghadapi kematian, kemudian dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya. 

Setelah kebangkitan, seluruh umat manusia akan dikumpulkan di sebuah dataran yang sangat luas, dikenal sebagai Padang Mahsyar. Di sinilah kengerian Padang Mahsyar akan mulai terungkap, di mana setiap individu akan menanti perhitungan amal.

Menurut Ukasyah Habibu Ahmad dalam bukunya Duhai Nabi, Jadikan Aku Kekasihmu!, kebahagiaan sejati tidak ditemukan di dunia, melainkan di akhirat yang merupakan tujuan akhir perjalanan setiap makhluk.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Sabtu (11/10/2025).

Gambaran Kengerian Padang Mahsyar dan Hari Perhitungan

Padang Mahsyar adalah sebuah dataran luas yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh umat manusia, mulai dari Nabi Adam hingga manusia terakhir, setelah mereka dibangkitkan dari kubur.

Hari itu merupakan hari yang sangat panjang, penuh ketidakpastian dan ketakutan, di mana setiap jiwa akan merasakan kengerian Padang Mahsyar yang luar biasa.

Pada hari tersebut, matahari akan didekatkan sejauh satu mil, menyebabkan panas yang tak tertahankan dan keringat yang membanjiri tubuh manusia sesuai dengan kadar dosa mereka.

Setiap orang akan sibuk dengan urusannya sendiri, tidak ada yang peduli dengan orang lain, bahkan orang tua tidak akan peduli pada anaknya, dan anak tidak akan peduli pada orang tuanya.

Ini adalah hari di mana setiap amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan secara adil.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-A'raaf: 34, bahwa setiap umat mempunyai batas waktu, dan apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya. Ayat ini menegaskan bahwa hari kebangkitan dan perhitungan di Padang Mahsyar adalah ketetapan yang pasti dan tidak bisa ditawar.

Dalam buku 1001 Wajah Manusia Di Padang Mahsyar yang dipublikasikan QultumMedia pada tahun 2008, dijelaskan bahwa manusia akan dihadapkan pada lembaran catatan amal mereka.

Lembaran ini tidak akan melewatkan satu pun perbuatan, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Setiap individu akan membaca catatan amalnya dengan lidah yang kelu dan hati yang penuh penyesalan, sementara rasa takut menyelimuti dari segala arah.

Banyak perbuatan yang dianggap bersih dan diterima di dunia, ternyata ditolak dan dihapus pada hari itu, menimbulkan penyesalan yang mendalam atas kelalaian selama hidup.

<...