Liputan6.com, Jakarta - Korupsi telah menjadi salah satu masalah kronis yang sulit diberantas di Indonesia. Banyak pihak mendesak agar praktik tersebut diberantas hingga ke akarnya. Namun, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha memiliki pandangan berbeda mengenai hal ini.
Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @Santri_Sabda_Official, Gus Baha menjelaskan bahwa pernyataan untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya mengandung unsur keangkuhan. Menurutnya, kedzaliman dan kebatilan sudah menjadi bagian dari takdir dunia yang tidak akan hilang hingga akhir zaman.
"Kiai, alim ulama itu tidak senang jika ada kalimat atau bahasa KPK yang mengatakan berantas ‘korupsi seakar-akarnya’. Kebatilan itu ditakdirkan sampai kiamat. Korupsi itu tidak bisa diberantas sampai akar-akarnya, karena setan masih hidup, dan kedzaliman itu berhabitat," ujar Gus Baha.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang lebih realistis dan rendah hati adalah dengan menggunakan kalimat "memberantas korupsi sebisanya." Menurutnya, hal ini lebih mencerminkan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menghadapi kebatilan.
Gus Baha juga mengkritik penggunaan ungkapan yang terkesan terlalu absolut. Menurutnya, pernyataan seperti itu bukan hanya tidak realistis, tetapi juga tidak sesuai dengan prinsip kerendahan hati dalam ajaran agama.
"Kalimat yang benar itu bukan ‘brantas sampai akar-akarnya,’ tapi pakai bahasa ‘brantas korupsi sebisanya.’ Itu lebih tepat," jelasnya.
Simak Video Pilihan Ini:
Heboh Pria Berparang Mengamuk Dibekuk Polisi
Polisi Juga Gak Usah Bilang Penegakan Setertib-tertibnya
Ia memberikan contoh lain terkait tata bahasa yang sebaiknya digunakan dalam konteks kehidupan sosial. Gus Baha menyinggung peran polisi yang kerap menggunakan ungkapan seperti "menertibkan setertib-tertibnya."
"Polisi juga tidak usah bilang setertib-tertibnya. Cukup bilang saja mengatur ketertiban," tambahnya.
Bagi Gus Baha, kesederhanaan dalam bertutur kata tidak hanya mencerminkan sikap rendah hati, tetapi juga lebih mendekati realitas yang ada. Ungkapan yang terlalu absolut justru bisa menjadi bentuk kesombongan yang tidak diinginkan.
"Ulama itu tidak berani bilan...