Liputan6.com, Phnom Penh - Setelah menanti kepergian seorang pelindung negara yang telah meninggalkan tanah airnya selama 13 tahun, pangeran Sihanouk kembali dengan sambutan hangat ribuan rakyat Kamboja yang mengibarkan bendera pada 14 November 1991.
Kedatangannya ini dari Beijing dan menggunakan pesawat Boeing 707 Air China, pesawat yang sama saat membawanya meninggalkan Kamboja pada Januari 1979, dilansir dari The Washington Post, Jumat (14/11/2025).
Beberapa orang yang menyambutnya dimulai dari para pemimpin pemerintahan dan Hun Sen, perdana menteri yang dulu menjadi lawan politiknya.
Sambutan untuk pangeran pun ramai memenuhi sorakan bahagia, seperti kehadiran para biksu berjubah safron, penari tradisional, perwira militer Kamboja, pejabat asing, teman, dan ratusan siswi melambaikan bendera kertas.
Sebelum ia menaiki Chevrolet Impala putih klasik tahun 1963 bersama Hun Sen menuju Istana Kerajaan yang baru direnovasi, kerumunan hingga 20.000 meneriakkan "panjang umur," sambil menaburkan kelopak melati putih di jalan.
Di dalam daftar resmi yang dirilis pemerintah, selain sang istri, Monique, dan putranya, Pangeran Norodom Ranarridh, terdapat beberapa koki asal Tiongkok, tiga pembuat kue serta dua dokter, yang ikut merayakan kembalinya sang pangeran.
Transisi Politik
Kepulangan dari pengasingannya menjadi simbol rekonsili nasional sesuai kesepakatan damai yang ditandatangani di Paris sebulan sebelumnya, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pangeran Sihanouk (69), juga kembali memimpin Dewan Nasional Tertinggi, dan memimpin demobilisasi pasukan oposisi Kamboja yang dikelola PBB.
Dewan yang beranggotakan 12 orang ini diwakili oleh empat faksi utama, yaitu pemerintah Phnom Penh, Khmer Merah, Front Pembebasan Nasional Rakyat Khmer, serta kelompok royalis yang dipimpin putranya, Pangeran Norodom Ranarridh.