Analisis DNA Ungkap Identitas Korban Bom Atom Hiroshima Setelah 80 Tahun

Liputan6.com, Tokyo - Setelah hampir 80 tahun, seorang gadis berusia 13 tahun telah berhasil diidentifikasi sebagai korban pemboman atom Hiroshima pada 6 Agustus 1945. DNA yang dimilikinya terbukti menjadi saksi sejarah pada masa mengerikan yang melenyapkan manusia dalam sekali ledakan dahsyat itu.

Rambut dan abu kremasi Hatsue Kajiyama (13) diawetkan dengan daftar nama lain, Michiko Kajiyama, yang berada dalam daftar pemakaman jenazah tetapi tidak diambil oleh keluarga atau pihak yang bertanggung jawab setelah kematian.

Kemudian keponakannya, Shuji Kajiyama (60) mencurigai adanya kesalahan penulis nama di Taman Peringatan Perdamaian dan meminta agar pihak berwenang melakukan verifikasi, dilansir dari Independent, Jumat (26/12/2025).

DNA yang diekstrak dari rambut dilakukan uji coba di Universitas Kedokteran Gigi Kanagawa dan dibandingkan dengan DNA saudara perempuan Hatsue Kajiyama yang berusia 91 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan darah yang sama dan kerabatnya berencana untuk melakukan pengembalian jenazah.

Kembali Dikenali Keluarga

Shuji Kajiyama menyampaikan rasa bahagianya telah berhasil mencari kecocokan kepada salah satu anggota keluarganya yang hilang.

"Saya senang telah memutuskan untuk melakukan analisis DNA, yang merupakan keputusan besar karena saya khawatir akan kemungkinan tidak ada kecocokan," ucapnya.

Hatsue Kajiyama adalah seorang pelajar di kelas dua SMA dan memilih tinggal bersama neneknya, Haru. Untuk melanjutkan pendidikan setelah keluarganya pindah ke Manchuria pada 1945.

Pada hari serangan saat itu, ia dan teman-teman sekelasnya dipanggil untuk membantu merobohkan sebuah bangunan, bertujuan untuk membuat zona pengendalian kebakaran saat Angkatan Udara AS menjatuhkan bom nuklir pertama di Hiroshima. Serangan ini pun menewaskan sekitar 15.000 orang, termasuk neneknya dan seluruh teman kelasnya.

Artis Salshabilla Adriani terlibat kecelakaan di kawasan Jakarta Selatan Selasa (16/12) malam. Bagaimana kelanjutan kasus ini?