Banjir dan Tanah Longsor di Sri Lanka Tewaskan 31 Orang, 14 Lainnya Hilang

Liputan6.com, Kolombo - Banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh hujan deras menewaskan sedikitnya 31 orang di seluruh Sri Lanka pekan ini, dengan 14 orang lainnya hilang. Demikian dikonfirmasi pihak berwenang pada Kamis (27/11/2025).

"Sebagian besar korban tewas terjadi di distrik penghasil teh di bagian tengah, Badulla, di mana 16 orang tertimbun hidup-hidup ketika lereng gunung ambruk menimpa rumah mereka pada malam hari," kata Sri Lanka Disaster Management Centre (DMC) seperti dikutip dari CNA.

Empat orang lainnya tewas dengan cara serupa di distrik tetangga, Nuwara Eliya. Korban tewas lainnya dilaporkan terjadi di berbagai wilayah lain.

Hampir 400 rumah rusak akibat longsor, dengan lebih dari 1.100 keluarga dipindahkan ke tempat penampungan sementara.

DMC mengatakan ketinggian air sungai meningkat di seluruh Sri Lanka dan memperingatkan warga di daerah dataran rendah untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi.

"Sri Lanka saat ini berada pada musim hujan yang dipengaruhi angin monsun dari arah timur laut. Namun, hujan turun jauh lebih deras dari biasanya karena terbentuknya tekanan udara rendah (depresi) di wilayah timur pulau itu," tambahnya.

Pemerintah telah menangguhkan ujian sekolah tahun akhir secara nasional selama dua hari karena kondisi cuaca.

Korban terkait cuaca pada pekan ini merupakan yang tertinggi sejak Juni tahun lalu, ketika 26 orang tewas setelah hujan lebat. Pada bulan Desember, 17 orang tewas akibat banjir dan tanah longsor.

Sri Lanka bergantung pada hujan muson musiman untuk kebutuhan irigasi dan sebagai sumber tenaga pembangkit listrik tenaga air. Namun, para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat negara itu semakin sering mengalami banjir.