Jakarta -
CEO Eramet Indonesia Jérôme Baudelet menyatakan dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menjadi produsen nikel terbesar di dunia dengan peningkatan produksi yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pada tahun 2023, menurut data Eramet, Indonesia memasok 55% dari total produksi nikel dunia, sehingga meningkatkan ketergantungan dunia terhadap pasokan nikel Indonesia.
"Kami sangat percaya bahwa Indonesia akan terus menjadi pusat produksi nikel global dalam 10 tahun ke depan. Sebanyak 70% dari produksi nikel global nantinya akan berasal dari Indonesia pada periode tersebut," kata Jérôme dalam keterangan tertulis, Rabu (13/11/2024).
Lebih lanjut, Jérôme juga mengungkapkan produksi perusahaan patungan Eramet dengan Tsingshan, Weda Bay Nickel, juga menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2024, produksi nikel Weda Bay Nickel akan mencapai 32 juta ton sesuai dengan kuota produksi yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Nikel Indonesia Mengalami Under Supply Pada Bijih
Jérôme juga menyoroti kondisi pasar nikel Indonesia yang saat ini mengalami kekurangan pasokan bijih nikel pada tahun ini. Lonjakan impor bijih nikel dari Filipina ke Indonesia semakin memperkuat indikasi tersebut.
Berdasarkan data Statistic Indonesia, Indonesia mengimpor sekitar 7 juta ton bijih nikel dari Filipina dalam sepuluh bulan pertama tahun 2024. Dibandingkan dengan hanya 374.454 ton untuk keseluruhan tahun 2023. Menurut statistik, hampir 60% dari impor tersebut telah dikirim ke pelabuhan Weda Bay.
Meskipun impor masih menyumbang sebagian kecil dari total konsumsi nikel Indonesia, permintaan yang tinggi telah mendorong harga bijih nikel menjadi lebih tinggi dari...