JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi yang dapat menyederhanakan kemampuan beraktivitas para penyandang disabilitas. Teknologi ini didukung Kecerdasan Buatan (AI).
Inovasi ini dikembangkan dengan fokus pada pengenalan suara dan pengenalan ekspresi wajah. Melalui Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS), teknologi ini diharapkan dapat membuat interaksi dan komunikasi menjadi lebih alami.
Hilman Ferdinandus Pardede, Peneliti Ahli Utama PRKAKS BRIN, menjelaskan fungsi pengenalan suara dalam teknologi ini. Kemampuan ini dihadirkan untuk membantu para penyandang disabilitas yang kesulitan mendengar.
"Pengenalan suara membuat komunikasi lebih alami dan manusiawi. Tidak perlu disentuh atau dilihat, cukup gunakan suara," ujar Hilman, dikutip melalui situs resmi BRIN pada Senin, 13 Oktober.
Namun, riset di bidang pengenalan suara ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam adaptasi terhadap berbagai aksen. Selain itu, kebisingan lingkungan dan beragamnya kondisi pengguna juga menjadi isu yang perlu diatasi.
Hilman menekankan pentingnya inovasi yang efisien dan hemat sumber daya agar teknologi dapat diakses lebih luas. Dengan memanfaatkan AI, Hilman berharap teknologi ini dapat diakses masyarakat luas, bahkan untuk pengguna dengan perangkat sederhana.
Di sisi lain, Gembong Satrio Wibowanto, Perekayasa Ahli Utama PRKAKS BRIN, menyoroti pengembangan teknologi Pengenalan Ekspresi Wajah (FER). Ia menjelaskan bahwa FER dapat menjadi sarana komunikasi alternatif bagi individu yang memiliki keterbatasan verbal.
"Teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi emosi pengguna secara akurat sehingga interak...