CIFP 2025, Dino Patti Djalal: Tatanan Dunia Runtuh dan Era Ketidakpastian Baru Dimulai

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dr. Dino Patti Djalal, merasakan bahwa dunia baru akan datang dengan penuh ketidakpastian dan tidak efektifnya institusi global, di mana negara-negara besar hanya mematuhi aturan ketika menguntungkan mereka saja.

Pidato pembukaan ini disampaikan di hadapan para menteri, diplomat, akademisi, dan ribuan peserta dari forum internasional pada Sabtu (29/11/2025) di Jakarta, dalam sebuah Conference of Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025.

Ia menegaskan bahwa tatanan dunia yang berbasis aturan kini runtuh, terdapat lebih banyak negara berpenghasilan menengah dengan sekitar empat miliar populasi kelas menengah tersebar di seluruh dunia, seperti terdapat 108 negara yang berpenghasilan menengah.

Namun, ledakan dari jumlah negara dan populasi kelas menengah semakin besar ini menandakan bahwa kekuatan ekonomi tidak lagi terpusat pada kelompok negara Barat, tetapi telah menyebar ke negara-negara Asia, yang memiliki tingkat ekonomi tinggi.

Perubahan ini dikarenakan dominasi pada BRICS, yang sekarang menyumbang 40 persen dari GDP global, melampaui G7 yang hanya 28 persen. Kesenjangan ini menurut Dino dapat terus melebar seiring bertambahnya anggota BRICS dan menguatnya posisi ekonomi negara-negara global.

Perbandingan kekuatan ekonomi antara BRICS dan G7 pun menggambarkan ketidakseimbangan antara pemegang kekuatan ekonomi dan aturan yang mengatur sistem internasional, di mana tata kelola global masih didominasi oleh negara-negara G7.