Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno menyoroti tantangan besar pendanaan iklim global saat ini dan menyerukan peran lebih aktif dari sektor swasta Indonesia dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan.
Hal ini ia sampaikan dalam keynote speech pada acara Indonesia Global Compact Network (IGCN) Annual Members Gathering 2025 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Menurut Havas, isu perubahan iklim tidak bisa dibahas tanpa menyentuh aspek pembiayaan. Ia menegaskan bahwa tanpa mekanisme pendanaan yang jelas, semua upaya mitigasi dan adaptasi hanya akan berhenti pada wacana.
"Semua diskusi tentang perubahan iklim tidak ada artinya kalau tidak bicara soal pendanaan," tegasnya.
Ia mencontohkan kondisi nyata di Desa Bedono, Jawa Tengah, yang tenggelam akibat penurunan tanah dan naiknya permukaan laut.
Menurutnya, kasus tersebut menggambarkan betapa mahalnya biaya penanganan perubahan iklim, mulai dari relokasi warga hingga pembangunan infrastruktur baru, dan bagaimana pembiayaan yang tersedia masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
"Indonesia membutuhkan sekitar US$281 miliar untuk mitigasi dan adaptasi iklim hingga 2030, sementara kapasitas APBN hanya menutupi 15 persen," jelasnya.
Partisipasi Sektor Swasta
Havas menilai, sumber pembiayaan alternatif seperti pasar karbon, dana multilateral, dan obligasi hijau perlu terus dioptimalkan. Namun, ia juga menyoroti minimnya partisipasi sektor swasta nasional dalam investasi hijau.
"Banyak perusahaan asing sudah berinvestasi di bidang keberlanjutan, tapi perusahaan Indonesia masih menganggapnya sekadar CSR. Padahal, pendekatan yang lebih institusional dan berkelanjutan sangat dibutuhkan," ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya inovasi dalam pembiayaan iklim, termasuk gagasan baru seperti "avoided emission", yakni skema yang memberi nilai ekonomi pada upaya pencegahan emisi karbon.
"Kalau penghindaran deforestasi bisa dimonetisasi, seharusnya penghindaran emisi juga bisa. Kita harus berpikir kreatif untuk membangun mekanisme baru," katanya.
Havas menutup pidatonya dengan menyerukan kolaborasi lin...