IPK Tinggi, Mental Rapuh: Ada yang Salah dengan Cara Kita Mengukur Sukses

Di lingkungan kampus, satu pertanyaan hampir selalu muncul di awal perkenalan: *“IPK kamu berapa?”*

Seolah-olah satu angka sudah cukup untuk merangkum seluruh perjalanan, usaha, dan nilai seseorang. Kita tumbuh dalam sistem yang meyakinkan bahwa IPK tinggi adalah tiket menuju masa depan yang aman. Namun, ironisnya, di balik transkrip nilai yang rapi, banyak mahasiswa justru menyimpan kegelisahan yang tidak pernah tercatat.

Saya melihat sendiri—dan mungkin juga merasakannya—bagaimana IPK perlahan berubah dari alat evaluasi akademik menjadi tolok ukur harga diri. Saat nilainya tinggi, kita merasa layak dan aman. Namun, ketika turun sedikit saja, muncul rasa gagal, cemas, bahkan malu. Seakan-akan keberhasilan hidup bisa runtuh hanya karena satu semester yang tidak berjalan sempurna.