Liputan6.com, Jakarta - Hubungan sejarah dan perspektif Indonesia dan Rusia sudah terjalin sejak lama. Kepala Badan Arsip Federal Federasi Rusia Andrey Artizov menyebut bahwa kedua negara sudah menggambarkan hubungan yang saling menghargai, dekat dan tidak saling mencampuri urusan satu sama lain.
Dalam Seminar Internasional Indonesia-Russia: from the Past to the Future, the Historical and Geopolitical Perspective, Andrey Artizov memaparkan sejumlah catatan sejarah antara Indonesia dan Rusia (yang dahulunya Uni Soviet).
"Pada tahun 1960-an, Uni Soviet punya rencana untuk membantu perkembangan negara-negara yang baru merdeka. Membantu negara yang ingin membangun ekonominya dengan anggaran Uni Soviet, termasuk Indonesia," kata Andrey Artizov pada seminar sesi pertama dengan tajuk Historical Perspectives on the Bilateral Relations between Indonesia and Russia, Selasa (24/9/2024) di Hotel Borobudur Jakarta.
"Keputusan dalam pemberian bantuan ekonomi, teknologi dan bidang lainnya naik dua kali lipat pada masa itu," kata Andrey Artizov.
Andrey Artizov menyebut, kala itu, sekitar 65 persen anggaran Uni Soviet digunakan untuk bantuan perkembangan ekonomi negara-negara di dunia.
Dalam kebijakan tersebut, Andrey Artizov mengatakan bahwa negara-negara yang tergabung dalam Konferensi Asia-Afrika yang berhak menerima bantuan itu.
"Untuk Indonesia, ada banyak pertimbangan yang dilakukan oleh Uni Soviet kala itu. Kami mempertimbangkan ekonomi Indonesia kala itu. Kami mendapatkan kiriman karet, minyak, rempah, kopi dan lain-lain. Sementara kerja sama dari Rusia ke Indonesia berupa pengiriman kendaraan, traktor, semen, sulfat, pupuk, kain, korek api dan lainnya."
"Bantuan ekonomi lainnya juga dilakukan, saat kedua negara melakukan perundingan. Uni Soviet memberikan bantuan dalam membangun waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia."
Kerja sama ekonomi antara Soviet dan Indonesia juga tergambar dalam pembangunan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), pembangunan pabrik baja hingga alumunium.
"Saya mau sampaikan bahwa hubungan kemitraan antara Moskow dan Jakarta dilakukan lantaran Soviet melihat melihat Indonesia sebagai mitra potensial yang berdaulat sejak zaman Presiden Suka...