Secangkir kopi sering menjadi pintu masuk menuju keheningan. Saat aroma kopi mengepul pelan, ritme hidup yang cepat seakan melambat. Di saat itu, seseorang mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Sunyi bukan berarti kosong, melainkan penuh dengan pertanyaan, kegelisahan, dan harapan yang selama ini tertinggal. Dalam keheningan, pikiran dipaksa jujur, tidak lagi bersembunyi di balik keramaian atau pendapat orang lain.
Keberanian untuk berpikir muncul ketika seseorang bersedia menghadapi sunyi itu. Berpikir bukanlah aktivitas pasif; ini membutuhkan keteguhan untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap biasa. Banyak orang lebih memilih keramaian agar tidak perlu berpikir terlalu dalam. Namun, tanpa keberanian untuk berpikir, manusia mudah terjebak dalam arus pendapat mayoritas, mengikuti tanpa memahami, dan menerima tanpa mengkritisi. Kopi, dalam kesederhanaannya, sering menjadi teman setia dalam proses berpikir yang sunyi namun mendalam.
Lebih jauh, kopi juga mengajarkan tentang kejujuran rasa. Ia pahit, dan tidak semua orang menyukainya. Namun justru dari kepahitan itu muncul kenikmatan yang otentik. Begit...