Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan menyerukan penyelidikan terhadap pornografi deepfake setelah laporan media menyebutkan bahwa ruang obrolan di Telegram membagikan gambar eksplisit anak di bawah umur, yang memicu kemarahan publik.
Korea Selatan memiliki kecepatan internet rata-rata tercepat di dunia, namun para aktivis mengatakan negara itu juga memiliki epidemi akut kejahatan seks di ruang digital, termasuk pornografi balas dendam dan penggunaan kamera mata-mata, dengan undang-undang yang tidak memadai untuk menghukum para pelanggar.
Seorang penyiar Korea Selatan melaporkan pekan lalu bahwa mahasiswa di sebuah universitas menjalankan ruang obrolan Telegram, di mana mereka membagikan materi pornografi deepfake.
"Baru-baru ini, video deepfake yang menargetkan individu yang tidak disebutkan namanya telah menyebar dengan cepat melalui media sosial," kata Presiden Yoon Suk Yeol dalam rapat kabinet pada hari Selasa (27/8/2024), seperti dilansir CNA, Rabu (28/8).
"Banyak korban adalah anak di bawah umur dan sebagian besar pelaku juga telah diidentifikasi sebagai remaja."
Yoon meminta pihak berwenang menyelidiki secara menyeluruh dan menangani kejahatan seks di ruang digital ini untuk memberantasnya sepenuhnya.
Pelaku dilaporkan menggunakan platform media sosial seperti Instagram untuk menyimpan atau mengambil gambar korban, yang kemudian digunakan untuk membuat materi pornografi deepfake.
"Masalah terbesar dengan pelecehan seksual daring adalah penghapusannya sangat sulit. Korban sering kali menderita tanpa menyadarinya," ujar aktivis hak-hak perempuan dan mantan anggota Partai Keadilan Bae Bok-joo kepada AFP.
* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.