Nikaragua di Bawah Bayang-bayang Kekuasaan Mutlak Daniel Ortega dan Istri

Liputan6.com, Managua - Presiden Nikaragua Daniel Ortega dan istrinya diperkirakan akan mengambil alih kekuasaan mutlak setelah anggota parlemen menyetujui amandemen konstitusi yang mengangkat sang istri menjadi "co-president" dan meningkatkan kontrol bersama mereka atas negara.

Ortega, yang sedang berada di bawah sanksi internasional terkait pelanggaran hak asasi manusia, sendiri yang mengusulkan perubahan ini. Amandemen ini juga memperkuat kontrol presiden atas media dan memperpanjang masa jabatan presiden dari lima menjadi enam tahun. Demikian seperti dilansir The Guardian, Minggu (24/11/2024).

Majelis Nasional Nikaragua dikuasai oleh Partai FSLN (Frente Sandinista de Liberacion Nacional/Front Nasional Pembebasan Sandinista) yang berkuasa di bawah Ortega, dan Ketua Parlemen Gustavo Porras menyatakan bahwa langkah ini disetujui secara bulat pada hari Jumat (22/11). Diperkirakan amandemen ini akan lolos pada pembacaan kedua pada Januari mendatang.

Ortega yang kini berusia 79 tahun telah menerapkan praktik otoriter yang semakin keras, memperketat kontrol di semua sektor negara dengan bantuan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo yang berusia 73 tahun. Mereka berdua disebut oleh para kritikus sebagai contoh dari kediktatoran nepotistik.

Ortega, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai presiden dari 1985 hingga 1990, kembali berkuasa pada 2007. Sejak itu, ratusan lawan politik, baik yang nyata maupun yang dianggap sebagai lawan, telah dipenjara.

Pemerintahan Ortega telah menargetkan para pengkritiknya, menutup lebih dari 5.000 LSM sejak protes besar pada 2018 yang diperkirakan oleh PBB menewaskan lebih dari 300 orang.

Ribuan warga Nikaragua melarikan diri ke pengasingan dan rezim Ortega kini berada di bawah sanksi dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Sebagian besar media independen dan oposisi sekarang beroperasi dari luar negeri.

Amandemen konstitusi ini menyatakan bahwa "pengkhianat terhadap tanah air" dapat dicabut kewarganegaraannya, seperti yang telah dilakukan pemerintah Ortega terhadap ratusan politikus, jurnalis, intelektual, dan aktivis yang dianggap kritis.

Ortega dan Murillo menuduh gereja, jurnalis, dan LSM mendukung upaya kudeta, yang mereka ...