Parlemen Jepang akan Pilih PM Baru, Takaichi Hadapi Tantangan Berat

JAKARTA - Partai-partai berkuasa dan oposisi di Jepang sepakat untuk menggelar pemungutan suara di parlemen guna memilih perdana menteri (PM) baru pada Selasa mendatang, kantor berita Kyodo melaporkan.

Pemungutan suara itu akan dilakukan setelah PM Shigeru Ishiba mengundurkan diri pada 7 September menyusul hasil buruk koalisinya dalam pemilihan anggota Majelis Rendah pada Oktober 2024 dan Majelis Tinggi pada Juli 2025.

Peta politik Jepang kini dilanda gejolak setelah pemimpin baru Partai Demokrat Liberal (LDP), Sanae Takaichi (64), berupaya membentuk koalisi pemerintahan. Keluarnya partai Komeito dari aliansi mereka pekan lalu membuat LDP kehilangan suara mayoritas.

Dilansir ANTARA dari Anadolu, Jumat,  17 Oktober, Takaichi, seorang konservatif garis keras dan sekutu dekat mendiang PM Shinzo Abe, mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin LDP. Namun, langkahnya untuk menduduki kursi PM Jepang masih penuh ketidakpastian.

Di kubu lain, Partai Demokrat Konstitusional Jepang, juga berupaya mempersatukan kekuatan oposisi untuk mengajukan satu calon bersama untuk menghadapi Takaichi.

Pada Kamis, LDP dan Partai Inovasi Jepang (JIP) memulai perundingan koalisi setelah Komeito keluar.

Namun, pemimpin JIP Hirofumi Yoshimura menegaskan partainya tidak akan berkoalisi dengan LDP kecuali ada kesepakatan untuk mengurangi jumlah kursi parlemen sebelum akhir tahun, menurut Kyodo.

Di Majelis Rendah dengan 465 anggota, LDP menguasai 196 kursi, sedangkan untuk memilih PM diperlukan 233 suara. Sisa kursi lainnya diduduki Partai Demokrat ...