Liputan6.com, Washington DC - Para pemilih Amerika Serikat kemungkinan akan dibanjiri oleh banjir misinformasi yang direkayasa oleh pihak yang tak bertanggung jawab, menurut pejabat senior intelijen AS.
Menurut pejabat Senior Intelijen AS ini, misinformasi ini akan memengaruhi hasil pemilihan presiden mendatang dan menimbulkan keraguan pada proses itu sendiri, dikutip dari laman VOA News, Rabu (9/10/2024).
Penilaian terbaru dari Kantor Direktur Intelijen Nasional muncul hanya 29 hari sebelum pemilihan umum 5 November 2024.
"Kami terus melihat aktivitas para pelaku untuk meningkatkan aktivitas mereka saat kita semakin dekat dengan Hari Pemilihan," kata seorang pejabat senior intelijen Amerika Serikat, yang memberi pengarahan kepada wartawan dengan syarat anonim.
"Mereka menyadari bahwa masyarakat sudah memberikan suaranya dan tindak pencegahan ini dapat memiliki dampak yang lebih besar saat kita semakin dekat dengan Hari Pemilihan," kata pejabat itu.
"Komunitas intelijen memperkirakan aktor tak bertanggung jawab ini akan terus mempertanyakan validitas hasil pemilu setelah pemungutan suara ditutup," kata pejabat.
Seorang pejabat intelijen AS lainnya (yang identitasnya dirahasikan) memperingatkan bahwa laju upaya pengaruh tersebut, terutama yang menargetkan ras atau kampanye politik tertentu.
Badan intelijen juga memperingatkan bahwa musuh AS kemungkinan akan memanfaatkan kerusakan yang disebabkan oleh Badai Helene dan potensi kerusakan dari Badai Milton.
Sejak 2020, pemilih Amerika Serikat keturunan Asia adalah kelompok dengan pertumbuhan tercepat di AS, menurut data Pew Research Center. Pada 2022, California, disusul New York dan Texas memiliki jumlah pemilih Asia Amerika terbanyak. Di balik potensi...