Ratusan Muslim Tewas Saat Salat Jumat Akibat Gempa Myanmar

Liputan6.com, Naypyidaw - Saat azan berkumandang di kota Sagaing, Myanmar, pada Jumat (28/3/2025), ratusan Muslim bergegas menuju lima masjid untuk menunaikan salat Jumat terakhir sebelum Hari Raya Idul Fitri. Namun, pada pukul 12.51 waktu setempat gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang daerah tersebut, meruntuhkan tiga masjid, termasuk Myoma Mosque, yang terbesar di kota itu.

Hampir seluruh jemaah di dalamnya tewas.

Mantan imam Myoma Mosque, Soe Nay Oo, yang kini tinggal di perbatasan Thailand di Mae Sot, merasakan getaran gempa dari kejauhan. Beberapa hari kemudian, ia menerima kabar memilukan bahwa sekitar 170 kerabat, teman, dan anggota jemaahnya meninggal dunia—sebagian besar di dalam masjid.

"Saya tidak bisa menahan air mata ketika mengingat mereka," katanya, seperti dikutip BBC, Rabu (2/4/).

Hingga kini, korban tewas akibat gempa di Sagaing dan Mandalay—kota terbesar kedua di Myanmar—telah mencapai lebih dari 2.700 orang, dan jumlahnya diperkirakan masih bertambah.

Di tengah reruntuhan, jalan Myoma Street menjadi salah satu lokasi paling parah terdampak. Beberapa saksi mata menyebut, sekitar 500 Muslim diperkirakan meninggal saat sedang beribadah di masjid-masjid mereka.

Di Myoma Mosque saja, lebih dari 60 orang tewas tertimpa reruntuhan, sementara puluhan lainnya meninggal di masjid Myodaw dan Moekya. Tim penyelamat masih berusaha mengevakuasi jenazah dari puing-puing bangunan hingga Selasa (2/4).

"Beberapa jenazah ditemukan di luar aula utama, di area tempat wudhu," ujar Soe Nay Oo.

"Beberapa tampak saling berpegangan tangan, seolah berusaha menyelamatkan satu sama lain."