Liputan6.com, Jakarta - Hari Valentine kini identik dengan cinta, bunga, cokelat, dan kartu ucapan penuh romansa. Namun, di balik perayaan yang manis ini, terdapat sejarah kelam yang penuh dengan ritual berdarah, eksekusi, hingga akhirnya berubah menjadi hari kasih sayang yang mendunia.
Dikutip dari laman NPR, Selasa (11/2/2025), sejarah Valentine dapat ditelusuri hingga ke zaman Romawi Kuno, di mana pada 13 hingga 15 Februari, masyarakat merayakan Festival Lupercalia. Dalam perayaan ini, pria Romawi mengorbankan kambing dan anjing, kemudian menggunakan kulit hewan yang baru disembelih untuk memukul para wanita.
Menurut Noel Lenski, seorang profesor studi agama di Universitas Yale, ritual ini dilakukan dengan kepercayaan bahwa wanita yang terkena cambukan akan menjadi lebih subur. Selain itu, festival ini juga mencakup lotre jodoh, di mana nama wanita ditarik dari sebuah wadah untuk dipasangkan dengan pria secara acak. Jika kecocokan terjadi, pasangan tersebut bisa bertahan lebih lama dari sekadar festival.
Nama Valentine sendiri diyakini berasal dari dua pria yang dieksekusi oleh Kaisar Claudius II pada 14 Februari di abad ke-3. Kedua pria ini kemudian dianggap sebagai martir dan diperingati oleh Gereja Katolik sebagai Hari Santo Valentine.
Pada abad ke-5, Paus Gelasius I mencoba menghapus unsur pagan dari Lupercalia dengan menggabungkannya dengan perayaan St. Valentine. Meski lebih terkendali dibanding sebelumnya, festival ini tetap mempertahankan unsur perayaan cinta dan kesuburan.
Pada masa yang sama, bangsa Norman juga memiliki perayaan serupa bernama Galatin's Day, yang berarti "pecinta wanita". Karena kemiripan bunyi, perayaan ini kemungkinan ikut bercampur dengan tradisi Hari Valentine yang berkembang kemudian.