Jakarta -
Ekonom meminta pemerintah agar bersikap hati-hati sekaligus proaktif dalam menyikapi rumor merger antara dua perusahaan layanan digital, yakni Grab Indonesia dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) yang terus menguat.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai merger Grab dengan GoTo bukan hanya isu terkait dengan bisnis, melainkan juga menyangkut kepentingan jangka panjang Indonesia di bidang ekonomi digital, kedaulatan data, dan struktur pasar.
"Pemerintah perlu bersikap proaktif dan hati-hati. GoTo adalah perusahaan dengan basis data ekonomi digital terbesar di Indonesia dan menjadi simbol kedaulatan digital nasional," kata Josua dalam keterangannya, Jumat (23/5/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk itu pemerintah harus berperan sebagai wasit yang aktif, bukan sekadar penonton," tegasnya.
Menurut dia, merger Grab-GoTo bisa dianggap sebagai peringatan bagi ekosistem perusahaan rintisan atau startup lokal. Apabila GoTo yang menjadi simbol keberhasilan startup Indonesia kemudian menyerah dan diambil alih atau digabung dengan Grab, maka tentu semakin menguatkan dominasi asing di sektor digital strategis. Hal ini akan memicu pesimisme terhadap kemampuan startup lokal untuk bersaing secara mandiri tanpa dukungan atau proteksi kebijakan.
Selain itu, bila rumor merger ini terealisasi, maka ada sejumlah langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah. Salah satunya yaitu memastikan regulasi perlindungan data dan transaksi agar data pengguna Indonesia tidak dikuasai sepenuhnya oleh entitas asing.
Tak hanya itu, dia menegaskan pemerintah juga perlu mengeksplorasi opsi kebijakan nasionalisasi sebagian atau golden share untuk mempertahankan kontrol atas aset digital strategis Indonesia.
Dalam kesempatan terpisah, James Guild yang merupakan pakar perdagangan dari S. Rajaratnam School of Inter...