Terungkap Alasan Negara-negara Arab Diam Saat Iran Berkecamuk

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Arab tampak diam merespons gejolak demonstrasi di Iran yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang sejak 28 Desember 2025.

Berdasarkan catatan The Economist, sikap ini jauh berbeda tatkala pemerintah Iran diguncang aksi protes dari warganya pada 2022 silam. Saat itu, banyak media Arab yang didanai pemerintahnya condong lebih marak melaporkan berita-berita yang mendukung demonstran dengan liputan simpatik tanpa henti.

Bahkan, Hossein Salami, komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kala itu menuduh media yang didukung Arab Saudi menghasut kerusuhan lebih lanjut dan menuntut kerajaan itu mengendalikan pemberitaan mereka. "Jika tidak, kalian akan membayar harganya," ancamnya.

Namun, protes di Iran saat ini menurut The Economist tak banyak mendapatkan perhatian dari negara-negara Arab, meskipun demonstrasi itu menimbulkan ancaman yang bahkan lebih besar bagi rezim dibandingkan pada 2022.

Siaran berita di negara-negara Arab saat demo itu digelar secara rutin malah didominasi isu-isu selain Iran.

Menurut The Economist, setidaknya ada dua hal menjelaskan perubahan sikap ini: merosotnya posisi Iran, dan meningkatnya ketakutan negara-negara Teluk terhadap efek rambatan kekacauan.

Serangan Israel ke Gaza menyusul pembantaian 7 Oktober 2023 telah menghancurkan jaringan proksi Iran. Hizbullah, sekutu kuatnya di Lebanon, telah melemah dan masih menghadapi serangan udara Israel hampir setiap hari.

Rezim Bashar al-Assad yang pro-Iran di Suriah kini tidak ada lagi. Iran sendiri terguncang akibat 12 hari pemboman Israel dan Amerika Serikat pada Juni lalu. Adapun Salami, ia tidak lagi...