Jakarta -
Pengaturan operasi truk over load over dimension (ODOL) atau truk obesitas masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah. Operasinya juga mendapat banyak perhatian beberapa waktu ke belakang menyusul rentetan kecelakaan melibatkan truk.
Persoalan truk ODOL menjadi salah satu bahan bahasan dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi V bersama Menteri Pekerjaan Umum (PU) hingga Menteri Perhubungan. Rapat ini membahas tentang kesiapan Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024-2025.
Dalam rapat tersebut, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono menyampaikan sejumlah temuannya dalam operasi Jalan Tol Cipularang. Salah satu yang disinggungnya ialah terkait kecelakaan maut di Tol Cipularang KM 92.200 jalur B pada 11 November lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecelakaan tersebut diduga akibat truk trailer mengalami rem blong. Soerjanto juga mengatakan, secara administratif truk ini masuk ke dalam golongan truk obesitas.
"Sedikit ini mengenai kecelakaan kemarin, jadi truknya overload sekitar 18%. Secara administratif, tetap overload. Tapi kalau secara teknis masih dalam toleransi," ujar Soerjanto, di Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2024).
Persoalan truk ODOL juga mendapat sorotan dari Anggota Komisi V DPR Fraksi Partai Demokrat Muhammad Lokot Nasution. Ia menyoroti tentang instrumen uji evaluasi truk ODOL yakni menggunakan jembatan timbang.
"Saya sudah sampaikan tentang apa instrumen kita uji evaluasi truk ODOL. Sepemahaman saya cuma satu yaitu jembatan timbang, di mana jembatan timbang hanya dioperasikan sampel saja," ujar Lokot, dalam kesempatan yang sama.
Karena itulah, ia meminta agar Kementerian Perhubungan melakukan pengkajian ulang terkait instrumen ini untuk meminimalisir operasi ODOL di jalanan. Apalagi mengingat sebentar lagi akan memasu...